<a target="_blank" href="http://www.soalcpns.com/?id=Dinoto">
<img border="0" src="http://www.soalcpns.com/images/latihan-soal-cpns.gif" width="728" height="90"></a><p><p></p>
Akhirnya Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong, Agum Gumelar,
mengumumkan bahwa penyebab tabrakan antara keretaapi langsam Tanah Abang –
Rangkasbitung (KA 930) dengan KA 1213 yang mengangkut batubara adalah technical
error. Yaitu blong-nya rem KA 930
ketika memasuki tujuan akhir, Stasiun Rangkasbitung. Walaupun seperti biasa, masih dibumbui dengan
kemungkinan sabotase (Liputan 6 Terkini, 26/10/01).
Sudah terlalu lama jajaran perkeretaapian Indonesia khususnya dan
insan perhubungan umumnya, selalu mencari kambing hitam bila kecelakaan
armadanya terjadi. Human error, human
error dan human error, ironisnya human error ini selalu
tertuju kepada masinis. Sementara para
teknisi yang bertanggungjawab terhadap peralatan selalu lepas dari tuduhan.
Adman bin Sunardi sekarang dapat tenang di pangkuan Sang Khalik,
menyusul Suwanto yang sampai sekarang masih mewariskan PR misterius buat
jajaran perkeretaapian negeri ini.
Tetapi kalau pengakuan Agum Gumelar yang tulus ini, tanpa tindak lanjut
yang terarah, maka kecelakaan-kecelakaan berikutnya akan tetap mengancam
kelangsungan hidup PT Keretaapi.
Untuk menghentikan laju keretaapi yang dibawa Adman bin Sunardi dini
hari itu, sebenarnya tidak terlalu perlu diganjal lokomotif BB 30421, apabila
rem-nya tidak blong dan dead man pedal-nya aktif. Atau setidaknya bisa mewanti-wanti
dahulu, seandainya radio lokomotif yang ada di sampingnya berfungsi.
Suwanto pun akan damai di akhirat jikalau jajaran PT Keretaapi
mencabut ucapanya terdahulu, bahwa kecepatan KA Empu Jaya mencapai 70 km/jam
ketika menghantam sebuah lokomotif yang sedang langsir di Cirebon. Karena besar kemungkinan, jangankan orang
lain, Suwanto sendiri sejak dari Stasiun Jakartakota tidak pernah tahu secara
tepat laju keretaapi yang dikendalikannya.
Speedometer, dead man pedal,
radio lokomotif dan rem adalah peralatan vital tempat jejalan penumpang
bertaruh nyawa. Cilaka … bila
mengabaikan salah satu diantaranya, apalagi kombinasinya. Korbannya bukan hanya penumpang yang tidak
pernah tahu permasalahan pokoknya, tetapi juga akan mencetak arwah masinis yang
harus terus bertanya-tanya, apakah namanya tercatat di batu nisan sebagai
pahlawan atau tertulis dalam daftar antre tukang sate, sebagai kambing
hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar