Technical error?
Menyikapi kejadian memilukan belum lama ini, saya membuka catatan 10
tahun lalu. Saat saya pulang-pergi Haurgeulis-Jakarta atau Bandung-Jakarta.
Bertengger tanpa karcis di lokomotif selama lebih dari 6 bulan, setiap hari
senin sampai Jum’at. Berangkat jauh sebelum subuh, pulang menjelang maghrib
meninggalkan Stasiun Jatinegara.
Catatan kecil itu kemudian saya rangkai dalam berbagai tulisan yang
intinya merupakan bentuk keprihatinan terhadap kondisi perkeretaapian Indonesia
saat itu. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
Satu catatan yang selalu saya sampaikan adalah bahwa rangkaian
kejadian yang menimpa keretaapi tidak akan berakhir tanpa pihak berwenang
mengatasi masalah pokoknya, lokomotif. Tanpa perhatian serius terhadap penarik
gerbong keretaapi itu maka kecelakaan demi kecelakaan akan terus menanti di
masa datang.
Seperti diketahui bahwa di lokomotif tidak terdapat setang/setir
sebagaimana kendaraan lain. Hanya ada handel-gas, speedometer, radio, rem dan
benda berbentuk kura-kura bernama dead-man pedal. Peralatan vital inilah yang
menentukan keselamatan para penumpang yang memadati rangkaian gerbong keretaapi
yang dibawanya.
Namun demikian, sangat disayangkan bahwa tidak semua lokomotif
dilengkapi dengan peralatan tersebut. Bukan hanya tidak berfungsi tetapi
beberapa diantaranya malah tidak ada.
Dari pengamatan terhadap 45 lokomotif yang membawa rangkaian kelas
ekonomi dan kelas non-ekonomi yang dimulai pada semester terakhir tahun 2000
ternyata 20 lokomotif speedometer-nya dapat diandalkan (44 %), 16 lokomotif
dengan speed-nol-meter alias speedometer-nya tidak pernah bergeser dari angka 0
(36 %) dan sisanya tanpa pengukur laju sama sekali (20 %).
Keadaan sangat memprihatinkan adalah bahwa penumpang keretaapi
terbanyak yaitu pengguna kelas ekonomi benar-benar di ujung tanduk. Hanya satu
diantara 7 lokomotif yang membawanya dilengkapi sepeedometer laik pakai (13 %).
Speedometer menjadi pedoman masinis dalam memainkan pedal gas,
menjalankan laju keretaapi sesuai berbagai semboyan tinggalan Penjajah Belanda.
Dari 45 lokomotif yang diamati, hampir 80 prosen kondisi radio
lokomotifnya baik, sedangkan sisanya tidak berfungsi atau tanpa radio sama
sekali.
Berbeda dengan kondisi speedometer, nasib radio di lokomotif yang
membawa rangkaian kelas ekonomi ternyata lebih baik. Sebaliknya hampir 20
prosen lokomotif yang menarik rangkaian kelas bisnis, eksekutif dan spasial
tanpa alat komunikasi dengan pihak luar.
Selain radio dan speedometer maka dead man pedal adalah barang yang
tidak kalah pentingnya. Benda seukuran anak kura-kura ini berfungsi mencegah
masinis mengantuk. Di-set teknisi di Dipo, apabila diinjak terus selama 60
detik akan segera berbunyi alarm. Bila masinis lalai dan terinjak terus maka
keretaapi akan berhenti dengan sendirinya. Demikian pula bila sebaliknya
terjadi, dibiarkan saja lebih dari waktu set.
“Banyak dead man pedal yang tidak berfungsi,” kata seorang masinis
yang saat itu hampir memasuki masa pensiun, “Dan itu bukan kesalahan masinis,
sebab yang mengeset adalah orang Dipo.”
Satu-satunya peralatan vital yang menurut pengamatan penulis masih
relatif berfungsi adalah rem. Walaupun ada beberapa kasus terjadi juga seperti
terjadi pada lokomotif CC 20313 yang membawa rangkaian KA Bima remnya blong !
(09/10/00). Masih beruntung para penumpang kelas eksekutif itu masih diberi
kesempatan eksekutif untuk menikmati udara segar.
Ke-blong-an rem pula yang mengantar Adman bin Sunardi menemui Sang
Khalik ketika KA 930 yang dibawanya tidak dapat berhenti di stasiun
Rengasdengklok sebagaimana biasa, sampai akhirnya diberhentikan paksa oleh
keretaapi pengangkut batubara dari arah lawan.
Dengan demikian, adalah terlalu naïf jika pejabat dan pihak
berwenang yang tidak tahu isi keretaapi selalu mencap human error sebagai
penyebab kecelakaan keretaapi di negeri ini. Bila berkaca kepada masa lalu,
maka technical error bisa terjadi.
Sebut saja kejadian menelan puluhan korban belum lama ini, jika saja
dilihat nonor lokomotifnya (sayang hampir semua media massa lupa untuk itu)
maka bisa dirunut bagaimana keadaan lokomotif itu 10 tahun lalu. Saya yakin,
tidak akan terlalu berbeda atau bahkan mungkin bisa lebih memprihatinkan.
10 tahun lalu (Selasa, 10/10/2010), Argo Bromo Angrek membawa
penumpang dari Surabaya ke Jakarta. Sampai di Pekalongan pukul 02.30, ditarik
oleh lokomotif CC203 11 yang tidak dilengkapi radio. Speedometernya pun mati.
Demikian juga lokomotif yang membawa KA Bima misalnya. Selain rem
blong seperti diuraikan di atas rangkaian eksekutif ini pernah ditarik oleh
lokomotif tanpa radio, seperti pada tanggal 5, 11 dan 13 Oktober 2000 ketika
ditarik masing-masing oleh lokomotif CC203 22, CC203 15 dan CC203 20. Padahal
bukan berarti tidak ada lokomotif yang layak, buktinya kereta tersebut pada
tanggal 9 Oktober 2000 ditarik oleh lokomotif CC203 13 yang kondisi
speedometer, radio maupun dead-man pedal-nya berfungsi dengan baik.
Dengan demikian, sekali lagi, jangan terlalu mudah memvonis kesalahan
pada manusia, apalagi seorang masinis misalnya. Technical error perlu dibenahi.
Dalam jangka panjang, tentu saja bukan hanya peralatan teknik yang
ada di dalam lokomotif dan gerbong keretaapi tetapi juga untaian sepanjang
jalur rel keretaapi beserta stasiunnya.
Tidak lupa, segenap insan keretaapi pun harus mau belajar sesuai
dengan perkembangan teknologi yang diterapkan, kecuali jika mau mati tergilas
oleh anggapan klasik para pemimpinnya yang selalu hanya bisa menyalahkan tanpa
tahu permasalahan sebenarnya dengan teriakan, “Human error !”
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar