PT Keretaapi seakan sedang menuai badai, angin kebebasan mengabaikan
peralatan yang ada di lokomotif yang sudah sekian lama berlangsung telah
menampakkan hasilnya. Belum jelas sebab
musabab terjadinya tabrakan antara KA Tawang Jaya dengan lokomotif yang akan
menarik KA Cirebon Express subuh 2 September 2001, tiba-tiba Kamis dini hari
tepat pukul 02.48 25 Oktober 2001, di Kampung Lebaksambel Desa Cijorolebak,
Rangkasbitung Kabupaten Lebak, terjadi tabrakan antara keretaapi langsam Rangkasbitung
– Tanah Abang (KA 930) dengan KA 1213 yang mengangkut batubara (Liputan 6 Siang
SCTV dan Suara Pembaruan, 25/10/01).
Akibat kejadian
ini, masinis KA 930 yang berada di lokomotif BB 30314 tewas bersama dua orang
lainnya (Kompas, 26/10/01). Walaupun
masinis dan asisten masinis yang meng-handle lokomotif BB 30421 selamat,
namun tidak pelak kedua lokomotif rusak parah dan perlu biaya perbaikan
milyarah rupiah.
Bagi insan
perkeretaapian, tabrakan antara dua keretaapi adalah suatu kejadian yang paling
memalukan yang seharusnya dijauhkan.
Tapi kejadian seperti ini bukan makin terhindar tetapi malah berulang
hanya berselang lima minggu dari kejadian yang memakan 42 korban itu. Bahkan KA langsam Rangkasbitung – Jakarta
harus mengalami hal yang sama kurang dari satu setengah tahun lalu.
Dari pengamatan
penulis sejak semester akhir tahun 2000, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
dengan kondisi peralatan vital di lokomotif seperti speedometer, radio, dead
man pedal dan rem seperti selama ini, pelayanan keretaapi sebagus apapun
hasilnya sama, yaitu baru pada tahap mampu membawa penumpang ke alam tanpa
sadar bahwa nyawa mereka sedang disabung berebut tujuan akhir : syurga, neraka
atau untuk sementara selamat sampai stasiun.
Kecelakaan oh Kecelakaan
Sekalipun
kejadiannya sudah hampir satu setengah tahun berlalu dan kepopulerannya
terhempas oleh berbagai kecelakaan keretaapi yang lain, masih menempel di benak
kita kejadian fatal yang harus dicatat dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Tabrakan antara KA Patas Merak (KA 209) dan
KRD Jakarta – Rangkasbitung (KA 906) di Mekarjaya – Serpong (Republika,
02/05/00). Walaupun korban yang tewas
hanya sepertiga dari korban anjloknya KA Bima di Wonosari (12/01/00), peristiwa
telak itu menjadikan harga diri bangsa yang besar-kemaluan ini seakan
terangkat sedikit, yaitu dengan mundurnya dua pejabat tinggi yang langsung
mengurusi angkutan keretaapi saat itu :
Dirjen Perhubungan Darat Santo Budiono dan diikuti Edi Haryoto Direktur
Utama PT KAI.
Namun seperti sudah diduga sebelumnya, mundurnya kedua pejabat tidak
akan selalu berbanding lurus dengan lepasnya ular besi dari kata
kecelakaan. Terbukti, serangkaian
kecelakaan selama tahun 2000 terus berlomba.
Sebuah stasiun televisi swasta sebagaimana dikutip Republika (03/05/00)
menghitung bahwa antara Januari – Maret 2000 telah terjadi 20 kecelakaan
keretaapi. Sementara menurut hitungan
Kompas (12/09/00), dalam setahun dari September 1999 sampai September 2000,
setiap bulan terjadi 2 kecelakaan, 4 kecelakaan dalam tiga bulan dan selama
periode itu terjadi 20 kali kecelakaan.
Oktober,
November dan Desember; triwulan terakhir awal millenium pun diwarnai dengan
sambaran KA Parahyangan terhadap truk bermuatan batu yang turut menyeret
pengendara motor dan pejalan kaki (Berita Buana, 23/10/00), anjloknya KA
Dwipangga di Petarukan, terbakarnya kereta pembangkit KA Argo Bromo di Cirebon,
amblasnya nyawa satu keluarga di perlintasan keretaapi pinggiran Kota Padang
karena kijang yang ditumpangi tidak dapat melaju sekencang ular besi, dan
banyak kecelakaan lain yang terjadi di luar Jabotabek sehingga minim publikasi.
Santo Budiono
boleh saja memilih hengkang dari kursi empuknya, karena di mata pria kelahiran
Malang 20 Maret 1939 itu kecelakaan keretaapi sudah kelewat banyak. “Selama ini rata-rata kecelakaan keretaapi
itu 7 kali setahun !” Katanya seperti dikutip Republika
(03/05/00). Beliau risih dengan
kecelakaan beruntun, sehingga 7 kecelakaan cukup terjadi dalam 4 bulan saja,
tidak harus menunggu satu tahun. “Bahkan
sebelum itu terjadi 20 kecelakaan yang antara lain terdiri dari 3 kecelakaan
keretaapi, 9 anjlok dan 4 kecelakaan di persimpangan,” lanjutnya.
Tahun 2000
seakan menjadi tahun bencana bagi perkeretaapian Indonesia, tak pelak Komisi IV
DPR mengharuskan PT KAI mengaudit sarana keretaapinya (Kompas, 12/09/00). Namun hal tersebut seperti tidak ditanggapi,
maka jadilah pra-millenium sebagai awal dari rangkaian bencana sepanjang
rel keretaapi.
Ketika semua
moda disibukkan dengan lebaran dan tahun baru yang datang hampir bersamaan, pas
lonceng hari pertama 2001 baru beberapa jam berlalu, KA Sapujagat anjlok di
Banyumas. Tak pelak hal ini menyebabkan
perjalanan keretaapi lain terhambat 5 sampai 7 jam dari jadwal. Berselang 5 hari, tepatnya Rabu 07/01/01, KA
Senja Utama mengalami kecelakaan serupa dan menyebabkan keretaapi yang melalui
jalur selatan harus mengalami keterlambatan 3 jam untuk sampai tujuan.
Terlepas dari
berbagai upaya yang dilakukan manajemen baru PT Keretaapi dalam membenahi diri
untuk menembus pelayanan minimal terhadap konsumen, maka masyarakat yang
berharap kecelakaan keretaapi berkurang akan kecele mendengar penuturan
Direktur Utama PT Keretaapi, Badar Zaenie.
Selama triwulan pertama tahun 2001 telah terjadi 46 kecelakaan
keretaapi, 7 diantaranya kecelakaan dengan kendaraan lain dan satu kecelakaan
fatal yaitu tabrakan dua keretaapi pengangkut batubara yang mengakibatkan 4
lokomotifnya rusak dan perlu biaya Rp. 60 milyar untuk memperbaikinya (Tabloid
Keretaapi KONTAK, bulan Mei 2001). Bila
dihitung secara matematis, maka setiap 4 hari terjadi satu kecelakaan keretaapi
dan dua minggu sekali ular besi memangsa besi lain yang melintas di sepurnya.
Rupanya kejadian
awal tahun 2001 yang dialami KA Sapujagat merupakan lonceng dimulainya
perlombaan kecelakaan di jagat perkeretaapian Indonesia selanjutnya !
Tabel
Keretaapi (T-100)
Menarik untuk
mengkaji ucapan Santo Budiono di atas, bahwa hampir separuh kecelakaan
keretaapi adalah anjloknya roda besi dari rel.
Bila ditarik benang merah dengan maraknya kecelakaan keretaapi awal
2001, maka kira-kira 20-an diantaranya dapat dipastikan anjloknya keretaapi
dari lintasan. Sekalipun rincian ini
tidak disebut oleh Direktur Utama PT Keretaapi yang baru.
Dengan kata lain
penyebab kecelakaan keretaapi sangat didominasi oleh sarana dan prasarana serta
insan keretaapi iitu sendiri. Hal serupa
pernah diindikasi anggota Komisi IV DPR, Yosef Umarhadi, bahwa ada sistem
manajemen yang kurang baik di tubuh PT KAI dan menjadi bukti tidak adanya
pembinaan ke bawah dan buruknya koordinasi (Berita Buana, 23/10/00).
Tabrakan dua
keretaapi pengangkut batubara di Pulau Andalas di atas yang perlu biaya
perbaikan lokomotif jauh lebih besar daripada pendapatan PT Keretaapi selama
satu triwulan, tentu tidak perlu terjadi apabila masinis patuh pada T-100 yang
menjadi pedoman dalam membawa rangkaian keretaapi.
Kelalaian serupa
bukan hal baru, KA Tawangjaya dan KA Parcel tahun lalu harus mengalaminya di
Alas Roban. Kerugian harta dan
nelayangnya nyawa dapat dihindari apabila masinis mempedomani Tabel Keretaapi
dan PPKA patuh pada Reglement No. 19, bahwa dalam satu petak jalan dengan sepur
tunggal antara dua stasiun hanya boleh ada satu keretaapi.
Kesalahan orang
dalam pula yang menyebabkan terjadinya tabrakan 3 buah keretaapi di jalur ganda
Cikampek – Jakarta pada tanggal 18 april 2000.
Tabel Keretaapi
menjadi sangat penting karena di dalamnya antara lain tercantum stasiun yang
akan dilalui, tempat pemberhentian, lama tempuh dari satu stasiun ke stasiun
berikutnya dalam hitungan menit. Dan
yang paling penting sekaligus paling sering harus diabaikan masinis adalah
kecepatan maksimum pada lintasan tertentu seperti tanjakan dan belokan.
Dengan demikian,
mengetahui kecepatan keretaapi yang dikendarai secara tepat adalah wajib hukumnya
bagi seorang masinis, sehingga speedometer merupakan alat vital
lokomotif yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Speed-0-meter (baca : speed nol meter)
Adalah kesalahan
besar yang berakibat fatal bila masinis hanya mengandalkan feeling dan
pengalaman untuk mengetahui kecepatan, seperti yang telah mengakibatkan
selipnya KA Argo Dwipangga di Petarukan (31/10/00) misalnya. Kealpaan serupa bukan tidak mungkin merupakan
penyebab terbesar anjloknya keretaapi dari rel dengan korban dan kerugian
materi yang tidak sedikit.
Sekalipun dalam
setiap kecelakaan keretaapi tidak pernah dilaporkan bahkan diperhatikan kondisi
speedometer lokomotifnya, namun berdasarkan pengamatan terhadap kondisi
speedometer di berbagai lokomotif selama ini, penulis berkesimpulan bahwa hal
ini harus diwaspadai.
Kecepatan
terlalu tinggi pada belokan dapat berakibat fatal. Kelewat cepat di tanjakan sangat
berbahaya. Demikian juga pada
jalur-jalur tertentu terdapat rel yang hanya boleh dilewati dengan kecepatan
tertentu. Itulah sebabnya speedometer
di lokomotif bukan hanya benda kecil untuk memadukan kecepatan maksimum yang
dibolehkan dengan target waktu dalam mencapai tujuan semata, tetapi juga sebuah
alat dimana nyawa dalam gerbong dipertaruhkan.
Dari pengamatan
terhadap 45 lokomotif yang membawa rangkaian kelas ekonomi dan kelas
non-ekonomi yang dimulai pada semester terakhir tahun 2000 dapat diambil
kesimpulan bahwa ternyata 20 lokomotif speedometer-nya dapat diandalkan
(44 %), 16 lokomotif dengan speed-nol-meter alias speedometer-nya
tidak pernah bergeser dari angka 0 (36 %) dan sisanya tanpa pengukur laju sama
sekali (20 %).
Yang sangat memprihatinkan adalah abahwa penumpang keretaapi
terbanyak yaitu pengguna kelas ekonomi benar-benar di ujung tanduk. Hanya satu diantara 7 lokomotif yang
membawanya dilengkapi sepeedometer laik pakai (13 %).
Tabel 1. Kondisi Speedometer pada Lokomotif
|
Kelas
Keretaapi
|
Jumlah
Sampel
|
Tanpa
Speedometer
|
Kondisi
Speedometer
|
|
|
Mati
|
Baik
|
|||
|
Ekonomi
|
15
|
7
|
6
|
2
|
|
Non-Ekonomi
|
30
|
2
|
10
|
18
|
|
J u m l a h
|
45
|
9
|
16
|
20
|
Oleh karena itu
jangan kaget kalau tabrakan antar ketretaapi kelas ekonomi yang kecepatannya
dibatasi hanya mencapai 80 km/jam lebih sering terjadi daripada keretaapi cepat
sekelas Argo Bromo, Argo Dwipangga dan Argo Muria ataupun dapat melesat sekuat
Bima dan setinggi Sembrani. Ternyata 87
prosen lokomotifnya tidak dilengkapi pedoman kecepatan yang baik, bahkan
separuh diantaranya tanpa speedometer sama sekali.
Keretaapi mahal
yang bukan hanya melayani konsumen elite-nya dengan istimewa tetapi juga
dapat perlakuan khusus dalam penggunaan sepur pun tidak jarang harus anjlok
dari relnya karena ternyata sepertiga masinisnya tidak pernah mengetahui
kecepatan keretaapinya secara pasti !
Padahal pada jalur tertentu, melanggar kecepatan maksimum sebagaimana
tercantum pada Tabel Keretaapi adalah fatal.
Radio
Lokomotif
Keadaan ini
diperparah oleh kurang berfungsinya radio, awak lokomotif dan keretaapi yang
dibawanya berkomunikasi dengan speedometer sedangkan radio untuk berhubungan
dengan pihak luar seperti ppka di stasiun maupun masinis di lokomotif yang
lain. Kalau radio lokomotif KA 930
berfungsi dengan baik maka kejadian kamis dini hari kemarin tidak perlu
terjadi.
Tabel 2. Kondisi Radio pada Lokomotif
|
Kelas
Keretaapi
|
Jumlah
Sampel
|
Tanpa Radio
|
Kondisi
Radio
|
|
|
Baik
|
Mati
|
|||
|
Ekonomi
|
15
|
2
|
13
|
-
|
|
Non-Ekonomi
|
30
|
1
|
22
|
7
|
|
J u m l a h
|
45
|
3
|
35
|
7
|
Dari 45
lokomotif yang diamati, hampir 80 prosen kondisi radio lokomotifnya baik,
sedangkan sisanya tidak berfungsi atau tanpa radio sama sekali.
Berbeda dengan
kondisi speedometer, nasib radio di lokomotif yang membawa rangkaian kelas
ekonomi ternyata lebih baik. Sebaliknya
hampir 20 prosen lokomotif yang menarik rangkaian kelas bisnis, eksekutif dan
spasial tanpa alat komunikasi dengan pihak luar.
Dead
Man Pedal
Selain radio dan
speedometer maka dead man pedal adalah barang yang tidak kalah
pentingnya. Benda seukuran anak
kura-kura ini berfungsi mencegah masinis mengantuk. Di-set teknisi di Dipo, apabila
diinjak terus selama 60 detik akan segera berbunyi alarm. Bila masinis lalai dan terinjak terus maka
keretaapi akan berhenti dengan sendirinya.
Demikian pula bila sebaliknya terjadi, dibiarkan saja lebih dari waktu set.
Penulis
kesulitan mendapatkan informasi kondisi benda yang sangat penting ini, selain
kecil letaknya pun tersembunyi. Namun
keterangan dari Karim, seorang masinis yang 3 tahun lagi pensiun, memperkuat
dugaan kalau alat penting yang satu ini juga sering diabaikan. “Banyak dead man pedal yang tidak
berfungsi,” katanya memulai, “Dan itu bukan kesalahan masinis, sebab yang
mengeset adalah orang Dipo.”
Memang sangat
sulit sekaligus berat bagi masinis untuk melakukan tindakan fatal seperti
mengubah setting waktu itu. Bila
ketahuan satu kali cukup puas dengan peringatan keras, dua kali bisa disertai
penurunan pangkat dan akan langsung dipecat apabila pelangaran ketiga
dilakukan.
Sesuai dengan
keangkeran namanya, mengabaikan benda ini akan mengantar para penumpang ke
wisuda untuk mendapatkan gelar dead man !
R e m
Satu-satunya
peralatan vital yang menurut pengamatan penulis masih relatif berfungsi adalah
rem. Sekalipun pernah terjadi lokomotif
CC 20313 yang membawa rangkaian KA Bima remnya blong ! (09/10/00).
Masih beruntung para penumpang kelas eksekutif itu masih diberi
kesempatan eksekutif untuk menikmati udara segar.
Hal serupa
pernah dialami masinis muda, Yanto, ketika membawa rangkaian barang KA Antaboga
yang harus melewati tikungan tajam dengan pertaruhan hidup dan mati karena
kecepatan keretaapi tidak dapat dikurangi dari 70 km/jam. Ternyata hal ini terjadi karena adanya selang
rem yang pecah.
Ke-blong-an
rem pula yang mengantar Adman bin Sunardi menemui Sang Khalik ketika KA 930
yang dibawanya tidak dapat berhenti di stasiun Rengasdengklok sebagaimana
biasa, sampai akhirnya diberhentikan paksa oleh keretaapi pengangkut batubara
dari arah lawan.
Mesin dan
Lain-lain
Pada setiap
lokomotif yang baik terdapat 2 handle, sehingga untuk maju ke satu arah
dan sebaliknya lokomotif tidak perlu diputar.
Masinis cukup pindah posisi di handle sebelah kanan.
Namun pada
beberapa kasus, handle kanan tidak dipakai karena mati ataupun bahkan
tidak ada (10 %). Hal ini akan sangat
mengganggu, masinis harus duduk di sebelah kiri, sementara keretaapi berjalan
di sepur kanan. Akibatnya pandangan
masinis ke rambu-rambu yang berada di sebelah kanan terganggu.
Seperti
diberitakan Suara Pembaruan (25/10/01) bahwa sebelum mengalami kecelakaan di
sebelah barat stasiun 420 Rengasdengklok, KA keretaapi yang dikendalikan Adman
bin Sunardi mengalami beberapa kali kerusakan mesin.
Kerusakan mesin pernah juga dialami lokomotif putih yang membawa KA
Parahyangan subuh-subuh dari Bandung (11/09/00). Beberapa meter setelah melewati terowongan
Sasaksaat, tiba-tiba mesin mati. Masinis
berusaha menghidupkan mesin, keretaapi berhasil maju beberapa meter.
Akhirnya
terpaksa keretaapi di-gerolong-kan menuju stasiun Maswati. Namun apa mau dikata, tepat di atas jembatan
yang menghubungkan dua bukit antara Sasaksaat dan Maswati, keretaapi
berhenti. Tiupan angin sangat terasa
menggoyang-goyangkan rangkaian padat penumpang.
Penutup
Anggota Komoisi
IV DPR, Ir. H. M. Rasyid Hidayat, menyarankan agar infrastruktur keretaapi yang
sebagian besar merupakan peninggalan penjajahan Belanda untuk dikaji ulang
(Liputan 6 Petang, 25/10/01). Namun
menurut pengamatan Penulis, justeru rentetan kecelakaan ini lebih banyak
disebabkan oleh diabaikannya administrasi ala Belanda dan peralatan vital yang
terdapat di lokomotif yang semuanya dibeli setelah Indonesia merdeka.
Lokomotif dengan
segala administrasi perkeretaapian yang hampir semuanya tinggalan penjajah
Belanda telah dirancang sedemikian detail sehingga segala bentuk kecelakaan
keretaapi dapat dihindari semaksimal mungkin.
Namun seiring beralihnya manajemen keretaapi kepada Bangsa Indonesia
yang terkenal ‘anti ruwet’ maka banyak hal detail diabaikan. Mulai dari format-format yang tidak diisi
lengkap sampai ketiadaan peralatan penting seperti speedometer, radio
lokomotif dan dead man pedal sehingga di rangkaian besi yang meluncur,
ribuan manusia tanpa sadar sedang menyabung nyawa.
Akan halnya hengkangnya speedometer dan radio lokomotif dari
tempatnya bersarang, tentu saja bukan akibat ulah penumpang seperti yang
terjadi terhadap nasib kipas angin baru di KA Tawangjaya (Kompas,
24/10/00). Karena penggunaan peralatan
tersebut sangat terbatas, hanya untuk keperluan keretaapi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar