<a target="_blank" href="http://www.soalcpns.com/?id=Dinoto">
<img border="0" src="http://www.soalcpns.com/images/soal-cpns.gif" width="300" height="250"></a><p></p>
Masih teringat
di kepala kejadian mengerikan menjelang fajar awal bulan lalu. Walaupun kepopulerannya sempat tergeser oleh
kasus WTC, musibah yang sangat memalukan bagi insan perkeretaapian Indonesia
itu menelan korban yang tidak sedikit.
Lebih memalukan
lagi, belum tuntas permasalahan dan sebab musabab kejadian itu, peristiwa
kecelakaan keretaapi terulang di tempat yang sama. Tawang Mas yang menuju Semarang anjlok, hanya
satu hari setelah keretaapi bergerbong kelas eksekutif Argobromo anjlok di
Ciganea. Lebih mengejutkan lagi ketika
tiba-tiba terdengar berita bahwa Jum’at dinihari (25/10/01) KA Rangkasbitung –
Jakarta bertabrakan dengan Keretaapi pengangkut batubara di Rangkasbitung. Dapat dipastikan bahwa kejadian ini menambah
rentetan kecelakaan keretaapi yang sering tidak pernah jelas ujung pangkalnya.
Beruntunglah
masinis yang saat itu bertugas di Argogede dan Tawang Mas, mereka tidak
dituduh-mati sebagai penyebab kecelakaan.
Nasib mereka jauh lebih baik daripada Suwanto, selain masih diberi
kesempatan menghirup udara segar, PT KA pun makin sadar bahwa ada sebab lain
selain kelalaian masinis yang menjadi penyebab kecelakaan.
Kesalahan pada
peralatan memang sudah disadari namun sering tidak ditindaklanjuti bahkan
terkesan ditutup-tutupi.
“….., dalam
musibah itu masih ada hal yang misterius.
Misalnya apa yang terjadi dengan lokomotif Cirebon Ekspres, serta
mengapa masinis melakukan pelanggaran sinyal.
Misteri tersebut masih belum terungkap, karena belum ada orang yang bisa
dimintai keterangan.” Kata Direktur PT
KAI, Badar Zainie, sebagaimana dikutip PR 21/09/2001.
Tak pelak
almarhum Suwanto, masinis yang dua tahun lagi pensiun jadi bahan umpatan
keluarga dan para korban. Dugaan
sementara yang disampaikan jajaran keretaapi yang berlanjut sampai Menteri
Perhubungan seperti biasa menjadi tuduhan yang menyakitkan keluarga masinis
yang ditinggalkan.
“Siapapun yang
kenal beliau, tidak akan percaya kalau Pak Wanto mengantuk.” ujar
pembantu masinis bernama Misno, “Dia itu masinis yang paling disiplin,
taat pada agama dan soal melek, beliaulah jagonya.”
Beruntunglah Pak
De, begitu Suwanto dipanggil tetangga sekitarnya, adalah manusia ramah yang
ditokohkan di lingkungannya. Kalau
tidak, di zaman yang serba bakar dan hancurkan ini, tentu sangat membahayakan
keluarganya. Hal semacam ini hendaknya
menjadi bahan pertimbangan pihak terkait termasuk Menteri Perhubungan agar
tidak mudah melontarkan praduga, yang di mata masyarakat awam selalu saja
berubah wujud menjadi tuduhan.
Bagi masyarakat
awam, alasan masinis ngantuk akan mudah sekali diterima. Tetapi bagi yang sudah tahu dapur lokomotif
akan segera mengatakan, “Tidak !” Dalam
setiap lokomotif terdapat benda mirip anak kura-kura, namanya Dead Man Pedal
(DMP). Dari namanya saja sudah dapat
diketahui akibat yang ditimbulkan apabila mengabaikannya. DMP sudah di-set, setiap 60 detik. Artinya apabila terus menerus diinjak selama
60 detik akan terdengar tanda bahaya dan seterusnya keretaapi berhenti. Demikian juga kalau terus dilepaskan. Jadi harus diinjak dan dilepas terus. Coba, bagaimana masinis bisa ngantuk kalau
ada kewajiban seperti ini. Kecuali
DMP-nya memang tidak aktif, kalau itu terjadi kesalahan bukan terletak pada
masinis tetapi tanggungjawab bagian peralatan.
Kesalahan
pertama memang selalu dijatuhkan kepada masinis, itu harus disadari oleh semua
masinis. “Padahal,” timpal Yanto yang juga masinis, “Saya pernah
hampir mati gara-gara rem kereta barang yang blong. Menikung dengan kecepatan 70 km/jam. Sangat mengerikan. Tapi tetap saya yang diomelin Kepala
Stasiun. Dikira ugal-ugalan.” Pengalaman Yanto yang lain adalah ketika
membawa keretaapi Gumarang yang gerbong belakangnya anjlok gara-gara wesel yang
kurang beres. “Lagi-lagi masinis jadi
bahan omelan.” Sikap Yanto yang
bersikeras tidak salah akhirnya membuat Kepala Stasiun terpaksa mengalah dan
mengakui kesalahan anak buahnya, Juru Sinyal yang membolehkan Gumarang melewati
wesel yang masih belum beres.
Human error, lagi-lagi human error.
Begitulah alasan jajaran persepuran yang bukan hanya membuat kesal
aktifis YLKI tetapi juga para masinis yang selalu dipojokkan. “Kesalahan karena peralatan selalu
disembunyikan,” lanjut Yanto.
Ucapan Yanto
memang tidak semuanya salah, dari pengamatan penulis selama enam bulan dari
satu lokomotif ke lokomotif yang lain menunjukkan kebenaran ucapan Yanto. Peumpang keretaapi kelas ekonmi benar-benar
dalam bahaya, 80 prosen lebih lokomotif yang membawanya tidak dilengkapi dengan
speedometer. Padahal speedometer
merupakan alat vital bagi masinis untuk mengetahui kecepatan pada saat tikungan
tajam, sinyal kuning ataupun tanjakan.
Fungsi speedometer tidak dapat diganti feeling, lagipula
bagaimana terbentuk feeling yang tajam kalau hanya seperlima lokomotif
saja yang dapat memberitahu masinis kecepatan keretaapi yang dibawanya. Lebih parah lagi bahwa peralatan sangat
penting di keretaapi yaitu dead man pedal (namanya saja serem), sering
tidak berfungsi.
Pengamatan
penulis ini sejalan dengan penuturan Karim, masinis yang 3 tahun lagi
pensiun. “Saya bisa tahu kecepatan
keretaapi melebihi batas dengan cara saya sendiri,” katanya memulai, “Keluarkan tangan, apabila
terbawa arus angin itu pertanda kecepatan harus dikurangi.” Hal ini harus dilakukan karena banyak
speedometer tidak berfungsi. “Dead
man pedal pun sering tidak di-set, sehingga bebas saja dan tidak perlu
diinjak.”
Pihak yang
bertanggungjawab terhadap kedua peralatan vital itu adalah bagian peralatan di
Dipo yang sudah merasa lepas dari tanggungjawab setelah mengisi format-format
administrasi lokomotif dengan kata “baik” walaupun keadaan sebaliknya yang
terjadi ketika masinis mulai bertugas.
Bukan perbuatan
yang hina bila insan perkeretaapian mengatakan banyak peralatan tidak berfungsi
ataupun di bawah standar mutu dibanding harganya. Bahkan mengaku tidak tahu menahu kecepatan
Empu Jaya ketika menabrak lokomotif yang akan menarik Cirebon Ekspress, karena
bukan tidak mungkin almarhum Suwanto pun tidak pernah tahu kecepatan keretaapi
yang saat itu dimudikannya.
Demikian juga
masinis yang baru saja meninggal pada tabrakan dini hari tadi, hendaknya tidak
langsung dituh sebagai penyebab kecelakaan.
Namun jauh dari harapan pula kalau kematian masinis menyebabkab
penyelidikan sebab-musabab kecelakaan berhenti sampai di situ saja dengan
alasan tidak ada pihak yang bisa dihubungi (maklum meninggal) seperti kasus
Suwanto dulu.
Selamat jalan
Pak De, semoga keluarga yang ditinggalkan tidak terganggu oleh celoteh para
pimpinan yang selalu ingat almarhum setiap makan sate, kambing hitam !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar