Renungan Masa Lalu :
Kamis 4 Oktober
2001 subuh, sebuah keretaapi kelas ekonomi sarat penumpang memasuki
Cirebon. Tidak seperti layaknya hari biasa, para
pedagang menyambut kedatangan mereka dengan muram. Mereka yang baru memulai hari barunya saat itu
segera mengukud dagangan, mengamankan makanan dan minuman yang dijajakan. Para bonek yang kelaparan bukan prospek pasar
yang menggiurkan tetapi merupakan ancaman keselamatan.
Seperti sudah terbiasa, dari tahun ke tahun,
setiap kesebelasan para arek ini bertandang di ujung kejayaan aksi mereka
selalu saja meresahkan. Niat baik mereka
untuk membangkitkan heroisme para gelandang lapangan patut dipuji,
tetapi jalan yang ditempuh hendaknya menjadi bahan koreksi. Tidak sedikit pihak yang dirugikan atas ulah
mereka.
Pagi itu, untuk kesekian kali PT Kereta Api
jadi sasaran pembajakan ala bonek.
Keretaapi ekonomi bernomor 155 yang berangkat dari Surabaya Gubeng
diperlakukan bak pesawat penumpang yang menabrak WTC dan Pentagon, kali ini
sasaran mereka adalah Pasar Senen.
Ketidaknyamanan bukan monopoli penumpang
keretaapi 155 sendiri yang ingin mendapatkan pelayanan minimal tetapi juga
dirasakan penumpang keretaapi kelas eksekutif.
Mereka yang membayar mahal untuk perjalanan yang nyaman, ternyata sangat
dirugikan. Keretaapi yang dinaiki harus
berhenti dari satu stasiun ke stasiun yang sebelumnya tidak pernah mereka
kenal. Sudah pasti, bukan hanya derik
rem yang mengganggu, waktu pun banyak terbuang percuma.
Keretaapi 155 yang dibajak bonek memang
tidak diperkenankan untuk didahului keretaapi lain. Boleh jadi hal ini untuk menyelamatkan aset
keretaapi dan juga para penumpangnya.
Masinis keretaapi Sembrani hanya bisa terkantuk menahan kesal, sejak
memasuki Pekalongan jam 01.00 WIB keretaapi yang dibawanya wajib berhenti
hampir di setiap stasiun. BLB, sinyal
merah dan berhenti atau jalan pelan-pelan dengan sinyal darurat. Keretaapi terelit di negeri ini, Argo Bromo
Angrek juga mengalami nasib serupa walaupun lebih baik karena bisa melewati
keretaapi yang satu kelas di bawahnya.
Namun, mendahului keretaapi 155 adalah tidak mungkin.
Keretaapi Sembrani baru sampai di Stasiun
Jatinegara 08.30, sangat terlambat dari jadwal.
Demikian juga Keretaapi Bima yang ada di belakangnya, datang dua menit
kemudian. Keretaapi paling pagi dari
Cirebon, Cirebon Ekspress pun mengalami nasib serupa. Giliran para calon penumpang Cirebon Ekspress
yang hendak ke Cirebon yang harus kecewa, keretaapi terpagi tidak ada.
Gaya galak mereka di atas keretaapi sebenarnya
bukan hal baru, para penumpang keretaapi dari Jakarta sering mengalami gangguan
mulai dari Jatinegara sampai Cikampek akibat ulah penumpang KRD/L yang
mengancam keretaapi yang mau mendahului dengan batu. Pihak PT Kereta Api tentu tidak mau ambil
resiko, terpaksalah keretaapi yang lebih berkelas dilambatkan terus membuntuti
KRD/L sampai tujuan akhir para manusia nekad.
Merasa dimenangkan, kejadian ini menjadi kerap
berulang. Tentu saja hal ini bukan hanya
meriugikan PT Kereta Api karena sebagian besar mereka tidak membeli karcis
ataupun abodemen, yang paling dirugikan adalah penumpang keretaapi lain yang
berharap mendapat kenyamanan selama perjalanan.
Aksi barudak Cikampek yang juga dikenal
pusat pencopet akhirnya ditiru para bonek, dan kenikmatannya membuat
mereka ketagihan dan lebih nekad. Bukan
tidak mungkin penyakit kronis ini akhirnya akan merambah ke wilayah lain,
terutama yang dilalui ular besi. Bukan
semata-mata dapat tumpangan gratisnya tetapi dendam terhadap kelakuan manusia
sejenis bonek yang tidak sedikit menimbulkan kerugian kepada masyarakat
yang dilewati sepanjang perjalanan.
Berdo’alah untuk datangnya sapu jagat. Boleh Sapu Jagat Benny Moerdani yang belasan
tahun lalu telah membuat ciut nyali para preman. Setidaknya Sapu Jagat yang dapat menyapu bersih
hati masyarakat dari keinginan untuk tidak meniru ataupun membalas perbuatan
para bonek ataupun barudak Cikampek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar