Paduan Kekuatan, Keindahan dan Kelestarian Alam
“Ini sich, belum
seberapa,” ujar Ade, asisten masinis
kelahiran Banjar, ketika KA Parahyangan yang dibawanya memasuki terowongan
Sasaksaat, “Terowongan ke Banjar Baru, lebih panjang lagi,” lanjutnya.
“Sayang, sudah tidak dipakai lagi.”
Terowongan yang
dimaksud Ade tidak lain semula bernama Terowongan Wilhelmina, menghubungkan
Banjar dan Cijulang. Terowongan yang
panjangnya mencapai 1,116 km ini diresmikan 80 tahun lalu, tepatnya tanggal 1
Juni 1921 bersama dua terowongan di dekatnya yang relatif pendek, masing-masing
105 dan 147 meter saja. Ketiganya merupakan
tripariat yang sekarang diberi nama Terowongan Sumber.
Sedangkan
terowongan antara stasiun Sasaksaat dan stasiun Maswati yang baru dilalui Ade
panjangnya mendekati, 949 meter. Pada
dinding masuknya tertera angka “1902 – 1903”, mungkin pada tahun tersebut
terowongan itu dibuat tetapi baru diresmikan 3 tahun kemudian. Sampai sekarang kegelapan terowongan ini
masih dapat dinikmati penumpang keretaapi menuju Bandung seperti KA Argo Gede
dan KA Parahyangan dari stasiun Gambir, keretaapi kelas ekonomi KA Cipuja dan
KA Citrajaya dari stasiun Jakartakota atau KA Galuh dari stasiun Tanah Abang.
Dua terowongan
di atas baru sebagian kecil dari rangkaian rel yang secara mengagumkan menembus
gunung dan bebetuan. Masih banyak
terowongan leretaapi warisan penjajah yang ditinggalkan kepada ahli waris para
korban penembus bebatuan.
Tabel 1. Terowongan Keretaapi Terpanjang
NO.
|
NAMA TEROWONGAN
|
PANJANG (meter)
|
TANGGAL PERESMIAN
|
1.
|
Sumber
|
1.116
|
01 Januari 1921
|
2.
|
Sasaksaat
|
949
|
02 Mei 1906
|
3.
|
Sawahlunto
|
827
|
01 Januari 1896
|
4.
|
Mrawen
|
690
|
10 September 1902
|
5.
|
Lampengan
|
687
|
10 Mei 1883
|
6.
|
Ijo
|
580
|
20 Juli 1887
|
7.
|
Muara Kalaban
|
545
|
01 Maret 1924
|
8.
|
Tebingtinggi
|
424
|
01 Nopember 1932
|
9.
|
Lahat
|
368
|
01 Nopember 1932
|
10.
|
Batulawang
|
281
|
15 desember 1916
|
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2,
Angkasa (1995)
Selain
terowongan, asset PT Keretaapi yang sangat berharga adalah jembatan-jembatan
tua yang merupakan paduan serasi antara faktor kekuatan dengan seni artistik
merangkai baja.
Sebagai contoh
adalah kerangka baja di Lembah Anai perbatasan Kabupaten Kanah Datar dan
Kabupaten Padang Pariaman, jaraknya beberapa kilometer dari Padangpanjang
menuju Padang Sumatera Barat. Bukan
hanya kekuatannya menahan beban serangkaian panjang wagon penuh batubara yang
mengandung decak kagum, tetapi juga lenggak-lenggok besi berpadu dengan
tata-kait sekrup yang sangat artistik.
Lebih mengagumkan lagi apabila dilihat tahun pembuatannya, akhir abad
XIX, tepatnya tahun 1891 !
Keindahan alam
Parahyangan juga makin lengkap dengan 3 buah jembatan keretaapi terpanjang di
negeri ini (Tabel 2). Pengguna jalan
raya Bandung – Jakarta via Purwakarta misalnya, dapat melihat dari jauh
rangkaian indah baja yang menghubungkan dua bukit menjelang Pandeglang. Sementara dari balik kaca para penumpang
keretaapi Bandung – Jakarta dapat melongok penataan lahan lestari secara teras
sering di bawah ketiga jembatan yang dilewati.
Semua penumpang
keretaapi menuju Jakarta atau sebaliknya pun bisa menatap anggunya lekuk tubuh
jembatan kembar yang melintasi Sungai Citarum dekat Stasiun Kedung Gedeh. Keindahannya dapat pula dinikmati para
pengguna jalan raya yang mengapit kedua jembatan tersebut.
Masih banyak
jembatan kuno yang panjangnya berbilang ratusan meter, yang paling tua adalah
Jembatan Porong di Jawa Timur yang panjangnya mencapai 222,70 meter dan
diresmikan lebih dari seabad lalu, yaitu tahun 1886. Selain Jembatan Batang Anai yang telah diulas
di atas, jembatan lain yang juga dibuat abad XIX adalah rangkaian 4 buah
Jembatan Bratas sepanjang 180 meter, diresmikan tahun 1899.
Tabel 2. Jembatan Keretaapi Terpanjang
NO
|
NAMA JEMBATAN
|
PANJANG (meter)
|
TAHUN PERESMIAN
|
1.
|
Cikubang
|
300
|
1906
|
2.
|
Cibisoro
|
290
|
1906
|
3.
|
Cipembokongan
|
270
|
1912
|
4.
|
Sungai Tulas
|
228
|
1912
|
5.
|
Serayu
|
225
|
1916
|
6.
|
Porong
|
223
|
1886
|
Sumber : Sejarah Perkeretaapian Indonesia Jilid 2,
Angkasa (1995)
Hebatnya, selain
berhasil memadukan kekuatan dengan keindahan, pembangunan jembatan dan
terowongan khususnya dan pemasangan rel keretaapi pada umumnya itupun
menunjukkan betapa concern-nya bangsa penjajah terhadap konservasi lahan. Sekalipun harus dengan investasi yang sangat
mahal. Asal tahun saja, sebelum Perang
Dunia II, perkeretaapian dan trem merupakan investasi terbesar Belanda di
Indonesia, yang nilainya mencapai Rp. 500 juta.
Sama besarnya dengan investasi bidang perminyakan saat itu (Djojohadikusumo, 1949).
Oleh karena
itu jangan gondok dulu kalau ada yang mengatakan, “Untung kita pernah dijajah
Belanga !” Namun ungkapan itu dapat
dipetik sebagai cambuk bagi warga bangsa merdeka ini yang untuk membangun jalur
ganda rel keretaapi Cikampek – Cirebon saja tidak pernah selesai. Atau yang lebih penting lagi adalah warning
bagi pengambil kebijakan, agar dalam pembuatan jalan tol tidak lagi harus mengorbankan
lahan produktif dan pembantaian aktifitas pertanian yang notabene menjadi
jantung kehidupan sebagian besar warganya.